Showing posts with label Keuangan. Show all posts
Showing posts with label Keuangan. Show all posts

Friday, June 26, 2026

Resensi Buku: Money Growth Mindset: Ubah Pola Pikir, Bangun Aset, Raih Versi Terbaik Dirimu


Soft cover - Bahasa Indonesia 

Halaman: 342 halaman

Penulis: Kim Jong-bong dan Jegal Hyeon-yeol

Penerbit: Noura Books, Jakarta 2025

ISBN: 978-623-242-482-1 

Genre: Keuangan



Tidak disangka, buku ini menjadi salah satu bacaan favorit saya di awal tahun 2026. 


Buku ini memiliki tiga tokoh utama fiktif yang masing-masing memiliki Bab perjalanan hidup di dalam buku. Kim In-Woo, si perintis tangguh yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di pencucian mobil. Sebaliknya tokoh kedua adalah Ban Bae-sang yang merupakan pewaris keluarga kaya. 


Kim In-Woo dan Ban Bae-sang “dipertemukan” sebagai peserta seminar “Ngopi Bareng Park In-seon, Miliarder dengan Aset 100 Miliar Won” yang diadakan setiap tahun oleh konglomerat Korea Selatan, Park In-seon. 


Setahun sekali, setelah memberikan seminar, In-seon akan memilih dua peserta seminar secara acak untuk diajak minum kopi. Momen ngopi bareng itu paling dinantikan oleh peserta seminar. Dan tentu saja, In-Woo dan Bae-sang menjadi dua peserta terpilih. 


Mengapa saya suka dengan buku ini? Di bawah ini alasannya. 


Konsep Penulisan 

Bab di dalam buku ini memberikan porsi cerita masing-masing untuk sudut pandang tokoh: Kim In-Woo, Ban Bae-sang, dan Park In-seon. 


Buku tentang keuangan ini menggunakan pendekatan fiksi yang menceritakan perjalanan dua karakter Perintis (In-Woo) dan Pewaris (Bae-sang) dalam mengelola uang, membangun aset, bisnis dan termasuk membangun branding diri yang baik. 


Tips Investasi

Tips investasi dari Park In-seon, yang digambarkan sebagai salah satu sosok berpengaruh dalam dunia keuangan Korea Selatan, disampaikan dalam bentuk 27 Tips Belajar Tentang Kekayaan yang menurut Park In-seon banyak digunakan oleh kalangan elite untuk membangun dan mengembangkan kekayaan secara lebih efektif. 


Kedua puluh tujuh (27) prinsip tersebut tidak disampaikan dalam bentuk pointer atau teori yang kaku, melainkan melalui berbagai pengalaman dan peristiwa yang dialami para  mentee bersama Park In-seon sebagai mentor.

 

**

Buku ini terasa relevan bagi Saya yang sedang belajar menjadi entrepreneur. Saya merasa buku ini hadir di waktu yang tepat. Buku ini tidak sekadar tips tentang cara menghasilkan uang, tetapi juga tentang bagaimana membangun pola pikir, kebiasaan, dan kemampuan mengambil keputusan jangka panjang. 


Selain itu, buku ini mengingatkan bahwa suatu peningkatan pendapatan tidak bisa instan, tapi melalui proses. 


Jika Anda sedang mencari buku yang menggabungkan cerita, refleksi diri, dan pelajaran tentang keuangan dalam bahasa yang ringan, Money Growth Mindset layak masuk daftar bacaan Anda. 


Buku Money Growth Mindset tersedia di toko buku Gramedia maupun Gramedia Online (cek buku di link ini) (*)


Tuesday, October 31, 2023

The Psychology of Money

  • Edisi: Bahasa Indonesia 


  • Penulis: Morgan Housel 

  • Halaman: xxi + 240 halaman

  • Sampul: soft cover 

  • ISBN: 978-602-6486-57-8


“Nilai intrinsik terbesar uang -dan ini sangat jelas- adalah kemampuannya memberi Anda kendali atas waktu Anda. Untuk mendapatkan kemerdekaan dan otonomi sedikit demi sedikit dari aset yang tak dihabiskan sehingga memberi Anda kendali lebih besar atas apa yang Anda bisa lakukan dan kapan Anda bisa melakukannya,”  

(The Psychology of Money, Morgan Housel, halaman 75) 



Buku yang Saya beli dan baca adalah edisi bahasa Indonesia cetakan ke-75 yang terbit pada Agustus 2023. Tertarik baca buku ini, karena buku ini digadang-gadang oleh sejumlah influencer investasi Indonesia di Youtube untuk dibaca agar membuka cakrawala kita berpikir tentang keuangan. 

dok: Gramedia.com


Selain itu, buku cetakan pertama terbit di 2021 berada di momen yang pas, ketika kesadaran masyarakat merebak tentang pentingnya pengaturan keuangan dan memiliki dana darurat sejak pandemi Covid-19 melanda. 


Di dalam salah satu paragraf buku ini, Housel menyebutkan, “Titik kegagalan paling besar dalam hal uang adalah hanya mengandalkan satu gaji untuk mendanai belanja jangka pendek, tanpa tabungan untuk bantalan antara belanja masa kini dan belanja masa depan.”


Sangat relate, bukan?! Saat ini kita tiba-tiba sering keterpa bahwa sekarang ini tidak hanya mengandalkan gaji, tapi harus punya side income. Seperti halnya di Bab 10 disebutkan bahwa kita tidak perlu alasan khusus untuk menabung. Dalam arti, boleh saja menabung untuk alasan membeli mobil, DP rumah dan sebagainya, namun Housel menekankan pentingnya menabung untuk hal yang tidak dapat diprediksi.  


Buku ini memuat 19 cerita yang mengeksplorasi cara berpikir orang-orang tentang keuangan.Buku ini mengajak pembaca untuk bijak dalam mengambil keputusan seputar keuangan. Terutama tentang keuangan pribadi, investasi dan keuangan bisnis. Ada banyak kutipan menarik yang tercantum di dalam buku tersebut. 


Beberapa saran singkat yang diberikan dalam buku Housel ini tentang membuat keputusan terbaik dengan uang Anda, sebagai berikut: 


  • Usahakan bersikap rendah hati ketika keadaan baik dan memaafkan/welas asih ketika keadaan buruk. 

  • Kurangi ego, tambah kekayaan. 

  • Kelola uang Anda dalam cara yang membuat Anda bisa tidur pada malam hari. 

  • Jika Anda ingin mendapat hasil lebih baik sebagai investor, hal yang paling dashyat yang bisa dilakukan adalah memperpanjang cakrawala waktu. 

  • Santai saja dengan banyak kesalahan. Anda bisa keliru dalam setengah dari semua kesempatan dan tetap untung. 

  • Gunakan uang untuk mendapat kendali atas waktu Anda. 

  • Jadilah lebih baik hati, jangan pamer.  

  • Menabung. Menabung saja. Tak perlu alasan khusus untuk menabung. 

  • Temukan biaya keberhasilan dan bersiaplah membayarnya. 

  • Junjung tinggi ruang untuk kesalahan. 

  • Sebaiknya Anda suka risiko karena seiring waktu, ada imbalannya. 

  • Ketahui permainan yang Anda lakukan dan pastikan tindakan Anda tidak dipengaruhi orang yang permainannya beda. 

  • Hormati ketidakrapian. Tak ada satu jawaban yang benar, karena setiap orang punya tujuan dan keinginan yang berbeda-beda. 


Kesimpulan akhir dari membaca buku ini, kita perlu menentukan tujuan utama dalam mencari uang dan berinvestasi. Misalkan saja, target utama kamu adalah kemandirian di masa tua, atau bisa terbang liburan ke luar negeri paling tidak satu tahun sekali. Lalu, capai target itu dengan hidup nyaman di bawah kemampuan. 


Cek buku asli dan original di Shopee, Gramedia.com atau yang seken di 2nds_Option.


(*)


Sunday, January 15, 2023

Nak, Belajarlah Soal Uang


Penulis: Jeong Seon Yong (Jeong Story)

Buku Financial - Edisi Bahasa Indonesia

Jumlah halaman: xv + 286 halaman

Format: Soft cover

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-06-6214-5

 

Deskripsi:

Bagi Penggemar buku finansial tentu sudah akrab dengan Rich Dad Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki, yang cukup memberi inspirasi kita untuk melek finansial sejak dini dan mengajarkan kita apa yang harus kita lakukan ataupun mengajarkan anak kita tentang uang agar mereka memiliki masa depan keuangan yang sukses.

 

Sehingga ketika diriku memegang buku Nak, Belajarlah Soal Uang Pelajaran tentang Uang dari seorang ayah kaya Korea, saya tentu penasaran nasihat finansial versi Appa (sebutan “Ayah” dalam bahasa Korea) dari negeri Ginseng.

 

Jeong Seon Yong meyakini bahwa tanah dan properti merupakan aset yang kuat untuk menjadi portofolio investasi. Aset yang memiliki batang yang kuat dan tahan goncangan, demikian kata Appa Seon Yong tentang properti.

 

Hal ini tidak lepas dari data bahwa Korea Selatan memiliki tingkat kepadatan penduduk nomor satu di dunia, dengan tingkat urbanisasi sebesar 82%, kepadatan penduduk nomor satu terpusat di kota metropolitan. Ditambah lagi tingkat persebaran rumah tangga yang pesat.

 

Nasehat keuangan yang kedua dari appa Seon Yong adalah menjadi pemilik usaha sendiri karena ini berarti memiliki pekerjaan yang aman dan tidak perlu khawatir dipecat. Ada sebuah petuah indah tentang menjalankan bisnis, yaitu “Sesuatu yang luar biasa terdapat pada roti yang dibasahi air mata dan sampanye yang dipenuhi air mata.” Singkatnya bahwa untuk sukses dalam bisnis maka bisnis pertama harus dilakukan secara mandiri dari tingkat dasar.

 

Namun appa Seon Yong mengaitkan membangun bisnis dengan empat fase usia pemahaman tentang uang.

 

Fase pertama, menurutnya, masa kanak-kanak adalah masa pemahaman penggunaan uang. Tahap ini terjadi sebelum seseorang memasuki kehidupan sosial. Dari lahir hingga pertengahan umur dua puluhan tahun. Periode tersebut waktu untuk belajar tentang pemakaian uang.

 

Fase kedua, masa muda adalah waktunya berfokus mencari uang dengan pekerjaan.


Sedangkan fase ketiga, masa dewasa adalah waktunya berfokus mencari pendapatan dari bisnis. Jika sekarang ini marak pendapat motivasi bahwa memulai bisnis di usia muda, katakanlah sejak lulus sarjana sekitar 22 tahun keatas, sehingga rentang usia yang kita miliki cukup panjang jika terjadi jatuh bangun dalam proses merintis usaha.

 

Seon Yong di dalam buku ini menempatkan masa dewasa seseorang dalam rentang usia empat puluh tahun hingga enam puluh tahun. Karena di periode ini kita mulai melangkahkan kaki untuk pertama kali ke dunia bisnis dengan menggunakan prinsip dasar yang didapatkan ketika bekerja. Pada tahapan ini kita sudah menguasai pembelajaran kita tentang penggunaan uang dan pendapatan dari bekerja.  

 

Barulah pada fase keempat, masa tua adalah waktunya untuk fokus kepada pendapatan dari modal. Masa ini dimulai dari akhir umur enam puluh tahun sampai ajal datang menanti.

 

Selain itu, appa Seon Yong juga menyebutkan bahwa keberhasilan pencapaian finansial mereka tidak lepas dari peran istrinya alias Ibu. Bahkan dia mengakui, Ibu memiliki pengetahuan ekonomi yang lebih baik sejak usia muda, ketimbang dirinya.

 

Sosok ibu digambarkan sebagai wanita muda yang telah memahami nilai uang sejak muda. Misalkan lebih memilih emas untuk mahar pernikahan, dimana emas tersebut menjadi salah satu pilihan investasi, dan  mengatur keuangan rumah tangga secara hemat.

 

Buku setebal lebih dari 280 halaman ini menurutku memberi ‘warna berbeda’ untuk literasi finansial. Yaitu, gaya tulisan naratif bak membaca surat dari Ayah tentang nasehat tentang pengetahuan ekonomi.


 

Sedikit bocoran Daftar Isi buku Nak, Belajarlah Soal Uang terdiri dari 5 bab:

 

Pendahuluan: Mengapa Kita Harus Belajar Soal Uang

1.      Tingkatkan Kekayaan: Ketahui Rasa Uang untuk Meraih Kekayaan

2.      Strategi: Uang Terkumpul, Uang Terpakai, Uang Disimpan

3.      Investasi: Teknik Mengumpulkan dan Menggulungnya

4.      Kehidupan: Kekayaan Ada Pada Pikiran

5.      Pelajaran Tentang Uang: Empat Cara Memiliki Mata yang Bisa Melihat Uang

Penutup: Kemiskinan Itu Memalukan

Surat Dari Anak: Kulihat Dunia dengan Pelita Ayahku

 

(*)

 


 

Rich Dad Poor Dad

Penulis: Robert T. Kiyosaki

Buku Business/Management - Edisi Bahasa Indonesia

Dimensi: 15 x 23  cm

Berat: 0,270 gram

Tebal: 244 halaman

Format: Soft cover

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-3317-5

 

Deskripsi:

 

“Alasan utama orang mengalami kesulitan keuangan adalah mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah tapi tidak belajar apa-apa tentang uang. Akibatnya, orang belajar untuk bekerja demi uang tapi tidak pernah belajar membuat uang bekerja bagi mereka.”

—Robert Kiyosaki

 


Rich Dad Poor Dad
(Ayah Kaya Ayah Miskin) adalah buku yang dirilis pertama kali pada 1997 karya Robert T. Kiyosaki dan Sharon Lechter membahas masalah finansial yang dihadapi banyak orang dikarenakan ajaran keliru orang tua mereka mengenai keuangan, yang juga dialaminya semasa kecil dan remaja.

 

Poor Dad (Ayah Miskin) adalah ayah kandung Robert sendiri yang seorang guru berpendidikan tinggi yang selalu menekankan anak-anaknya untuk giat bersekolah supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus di sekolah dan pekerjaan yang terjamin di masa mendatang. Ayah Miskin mengajarkan kepada anaknya menjadi pegawai yang berpenghasilan tinggi, tetapi pada kenyataan tetap bergantung kepada gaji sepanjang hidupnya.

 

Berbeda halnya dengan Rich Dad (Ayah Kaya) yang tidak berpendidikan tinggi tapi mengajarkan anak-anaknya untuk mengambil risiko membangun usaha dan menjadi investor setelah mereka lulus sekolah.

 

Kedua ayah ini disebutkan telah memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupannya yang sekarang, karena dengan ajaran Ayah Kaya, ia bisa berhasil dalam bidang finansial, dan dengan pengaruh ayah kandungnya, Robert bisa menjadi pengajar mengenai pendidikan ekonomi yang dia ciptakan. 


Saya pertama kali membaca buku ini karena dipinjamkan teman. Saat itu, seingatku, saya mungkin baru di tahun awal terjun ke dunia kerja, sedang menikmati penghasilan bulanan untuk membeli apa yang diinginkan (dengan catatan: ingin tapi sesuai kemampuan, lho). Setelah membaca buku itu, cukup mengubah pandanganku tentang penghasilan serta sebagaimana nasehat Ayah Kaya untuk mendefinisikasn asset dan liabilitas secara jelas.

 

Dalam buku ini, Robert Kiyosaki mencoba mengajarkan para pembaca untuk mulai saat ini melatih anak dan cucunya kelak, bahkan untuk dirinya sendiri agar cerdas dalam mengelola persoalan finansial. Selain itu, Robert juga menggarisbawahi bahwa orang kaya tidak bekerja hanya untuk uang, melainkan uang yang akan bekerja untuknya.

 

Saya kembali membaca buku Rich Dad Poor Dad versi Bahasa Indonesia yang mencapai cetakan ke-58 (Februari 2021) di masa pandemi COVID-19. Baca buku menjadi salah satu kegiatan saat di rumah saja apalagi karena beli buku juga bisa secara online misalkan di situs e-commerce seperti Shopee, Blibli, Periplus atau Gramedia.com.

 

Buku Rich Dad Poor Dad telah diterbitkan pertama kali pada 24 tahun lalu. Tapi ide yang ditawarkan semakin benar, dimana setiap orang paham tentang pentingnya melek finansial dan pentingnya pendidikan keuangan  sejak masih anak-anak.

 

Buku Rich DadPoor Dad direkomendasikan sebagai salah satu buku rekomendasi sebagai titik awal bagi siapa pun yang ingin belajar tentang investasi dan pengelolaan keuangan.  


Ini bocoran Daftar Isi buku Rich Dad Poor Dad:

·        Pendahuluan: Ayah Kaya, Ayah Miskin

·        Bab Satu: Pelajaran Satu: Orang Kaya Tidak Bekerja untuk Uang

·        Bab Dua: Pelajaran Dua: Mengapa Mengajarkan Melek Keuangan?

·        Bab Tiga: Pelajaran Tiga: Uruslah Bisnis Anda Sendiri

·        Bab Empat: Pelajaran Empat: Sejarah Pajak dan Kekuatan Korporasi

·        Bab Lima: Pelajaran Lima: Orang Kaya Menciptakan Uang

·        Bab Enam: Pelajaran Enam: Bekerja untuk Belajar—Jangan Bekerja untuk Uang

·        Bab Tujuh: Mengatasi Berbagai Hambatan

·        Bab Delapan: Memulai

·        Bab Sembilan: Masih Ingin Lagi? Berikut Beberapa Hal yang Perlu Dilakukan

·        Pemikiran Akhir

(*)



Thursday, October 13, 2011

Menjadi Cantik, Gaya & Tetap Kaya

Penulis : Prita H. Ghozie, SE, MCom, CFP
Halaman : 320 halaman
Penerbit : PT Elex Media Komputindo – Jakarta (2010)


Seiring era modern yang memungkinkan wanita memiliki profesi dan bekerja di perusahaan, kini mereka punya uang sendiri dan berhak membelanjakan uang tersebut sesuka hati.

Tapi kelebihan ini kalau tidak dibarengi pengetahuan finansial, membuat wanita terjebak dalam pola hidup konsumtif dan utang. Rayuan belanja dan tampil gaya memang menjadi ”kelemahan” wanita karena sudah menjadi naluri dasar seorang perempuan ingin tampil cantik dan menarik.

Perencana keuangan Prita H. Ghozie mengatakan tradisi masyarakat, khususnya negara timur, secara tidak sadar mengarahkan anak perempuan menjadi pembelanja. Contohnya: menemani ibu ke pasar atau arisan.

Padahal kondisi tubuh manusia akan berubah seiring bertambahnya usia. Harus kita sadari ada usia produktif (mencari uang) dan usia pensiun (saat menikmati hasil investasi dari uang yang dikumpulkan saat usia produktif). Selain itu harus sadar bahwa perempuan memiliki harapan hidup lebih panjang daripada pria.

Prita mengatakan untuk cantik, tidak hanya fisik. Kondisi keuangan pun akan mempengaruhi ’kesejahteraan’ Anda untuk senantiasa tampil cantik. Dia memaparkan  ’resep cantik’ yang terdiri dari 9 bab. Intinya supaya wanita modern selain mampu menghasilkan uang, juga handal dalam mengelola keuangan, lepas dari jerat utang, mengetahui investasi keuangan tanpa mengorbankan kebahagiaan pribadi maupun keluarga.

Buku perencanaan keuangan pribadi belakangan ini banyak Anda temukan di toko buku.

Namun buku ini menjadi menarik karena perencanaan keuangan ini ditujukan khusus kepada wanita. Selain itu buku setebal 320 halaman ini ditulis oleh perempuan Indonesia sehingga terasa lebih sesuai dengan masalah yang dihadapi masyarakat disini sehingga tulisan berwacana lokal.

Prita memaparkan dalam bahasa sederhana, meski kadang terjebak dalam bahasa lisan, seolah berdialog langsung dengan pembaca, namun pemaparan cukup gampang dicerna dan mengalir. Ia menggunakan contoh-contoh kasus dan mengutip beberapa pertanyaan yang pernah mampir ke rubrik konsultasi keuangan yang dia kelola di  tabloid Wanita Indonesia.

Kertas kerja untuk pengisian daftar kekayaan bersih, arus kas, atau pendapatan yang kita inginkan kontra realitas (maunya versus kenyataan) cukup menampar saya sebagai pembaca untuk berani menghitung pendapatan, pengeluaran, utang, kemudian berpikir tentang tabungan masa depan dan perencanaan keuangan pribadi.

Sayang, hingga buku ini habis rasanya contoh kasus kebanyakan seputar wanita dengan gaji Rp 5 juta ke keatas, gandrung spa atau tahu tas bermerek premium.

Padahal saya yakin banyak wanita pekerja di Indonesia punya pendapatan sebesar Upah Minimum Regional dan bergelut di masalah yang sama: jeratan sale dan belanja konsumtif, namun ingin cerdas mengolah penghasilan yang berkejaran dengan angka inflasi, sekaligus sejahtera meski telah pensiun.

Sebagai patokan, Upah Minimum Regional (UMR) DKI Jakarta pada 2009 sebesar Rp 1.069.865,00 per bulan.  

Jangan sampai ketika buku ini di tangan pembaca membuat orang berpikir ke mitos keuangan lama, ”Menabung atau menyiapkan dana masa depan bakal lebih mudah kalau penghasilan besar.” Padahal justru stigma ini yang perlu dihapus dalam perencanaan keuangan pribadi atau keluarga.

Terlepas dari kritik diatas, buku ini cukup menarik dibaca untuk menjadi satu referensi bagi kaum perempuan. Mulai dari wanita lulus kuliah yang baru terjun ke ke dunia kerja serta memperoleh penghasilan, single ladies yang ingin punya hari tua nyaman dan mapan, atau ibu rumah tangga pengatur keuangan keluarga. (*)