Saturday, July 25, 2026

The Odyssey (2026): Membedah Epos Perjalanan Pulang Odysseus

Di bioskop saat ini tengah laris film The Odyssey besutan sutradara Christopher Nolan dengan sederet pemain seperti Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, dan Zendaya. Film ini resmi diputar di bioskop mulai 17 Juli 2026, termasuk di Indonesia.


Setelah sukses melalui Oppenheimer yang meraih berbagai penghargaan Oscar, Nolan kini mengangkat salah satu karya sastra klasik paling berpengaruh di dunia, yaitu The Odyssey. Film tersebut diadaptasi dari epos Yunani karya Homer yang diperkirakan berasal dari sekitar abad kedelapan sebelum Masehi.

 

Kisahnya mengikuti perjalanan pulang Odysseus, Raja Ithaca sekaligus salah satu pahlawan perang Troya. Setelah berperang selama 10 tahun, Odysseus harus menempuh perjalanan selama 10 tahun lagi untuk kembali ke kerajaannya serta bertemu kembali dengan istrinya, Penelope, dan putranya, Telemachus.

 

Perjalanan tersebut tidak berlangsung mudah. Odysseus harus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari monster mitologi, kemarahan para dewa,  kehilangan para pengikutnya, hingga berbagai cobaan yang menjauhkannya dari perjalanan pulang.

 

Epos The Odyssey karya Homer terdiri atas 24 buku yang mengisahkan perjalanan Odysseus untuk kembali ke Ithaca setelah Perang Troya.  Secara garis besar, kisah dalam 24 buku tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian naratif.

 

1. Telemachus mencari kabar ayahnya

Bagian awal epos tidak langsung mengikuti perjalanan Odysseus, tetapi berpusat pada putranya, Telemachus. Ia berusaha mencari kabar mengenai sang ayah yang belum kembali setelah Perang Troya. Sementara itu, para pelamar Penelope menduduki istana dan menghabiskan kekayaan keluarga karena menganggap Odysseus telah meninggal.

 

Telemachus, yang kini telah beranjak dewasa—meninggalkan rumah untuk mencari kabar tentang ayahnya dengan dipandu oleh dewi Athena.

 

2. Perjalanan dan petualangan Odysseus

Kisah kemudian beralih ke sudut pandang Odysseus. Bagian ini menceritakan berbagai rintangan yang dihadapi Odysseus dan pasukan saat berusaha berlayar kembali ke Ithaca.

 

Perjalanannya penuh dengan bencana, terutama karena ia telah membuat murka Poseidon, sang dewa laut. Selama pelayarannya, Odysseus berhasil selamat dari serangkaian bahaya legendaris. Di antaranya adalah pertemuan dengan Cyclops Polyphemus, penyihir Circe, para Siren, monster laut Scylla dan Charybdis, hingga masa ketika ia tertahan di pulau Calypso.

 

Menariknya, sebagian besar petualangan tersebut dalam epos aslinya disampaikan sebagai kilas balik yang diceritakan oleh Odysseus. Karena itu, alur epos The Odyssey tidak sepenuhnya berjalan secara kronologis.

 

Makhluk atau monster mitologi ini telah menjadi cerita klasik yang muncul dalam berbagai cerita, yaitu:

 

  • Polyphemus: Cyclop, rakasa bermata satu, yang menjebak Odysseus dan anak buahnya. Odysseus membutakan mata makhluk itu dan berhasil meloloskan diri, namun tanpa sengaja memancing kemarahan Poseidon dalam prosesnya.
  • Para Siren: makhluk-makhluk yang nyanyiannya begitu indah dan memikat para pelaut hingga menjerumuskan para pelaut pada kematian. Odysseus mengikat dirinya pada tiang kapal dan memerintahkan anak buahnya untuk menyumbat telinga mereka agar ia dapat mendengarkan nyanyian itu dengan aman.
  • Penyihir Circe: Seorang penyihir yang untuk sementara mengubah sebagian awak kapal Odysseus menjadi babi.
  • Calypso: Seorang nimfa yang menahan Odysseus di pulaunya selama tujuh tahun, serta menawarkan keabadian jika ia mau tinggal bersamanya. Odysseus menolaknya karena ia hanya ingin kembali kepada keluarganya.

 

 

3. Kepulangan (Nostos) dan perebutan kembali Ithaca

Setelah Odysseus akhirnya tiba di Ithaca, seluruh awak kapalnya telah tewas, dan ia tidak langsung memperlihatkan identitasnya. Ia menyamar sebagai pengemis tua untuk mengetahui keadaan kerajaannya dan menguji siapa saja yang masih setia kepadanya.

 

Dengan bantuan putranya, Telemachus, serta dewi Athena, ia mencari tahu siapa saja di antara penghuni istananya yang tetap setia. Ia kemudian menyingkap jati dirinya dan—menggunakan busur panahnya yang legendaris—bertarung serta mengalahkan gerombolan pelamar untuk merebut kembali takhta yang menjadi haknya.



Lukisan "Ulysses and Argus" (1871) karya pelukis Inggris Briton Riviere yang menggambarkan pertemuan mengharukan antara Odysseus dan Argus, anjingnya yang setia menanti kepulangan Odysseus. Argus akhirnya menghembuskan nafas terakhir usai bertemu Odysseus yang kembali ke Ithaca setelah 20 tahun. 

 


Catatan Penulis:

Ternyata penerimaanku terhadap cerita mitologi Yunani akan berubah seiring pertambahan usia. Termasuk juga usai menonton The Odyssey (2026) karya Christopher Nolan ini.

 

Jika dahulu saya terpuaskan oleh penggambaran monster mitologi seperti dalam The Clash of the Titans (1981, 2010), atau Wrath of the Titans (2012), maka di film The Odyssey garapan Nolan tidak terlalu memanjakan penonton dengan kemegahan monster dan CGI.

 

Adegan para Siren tetap dimunculkan, tetapi tidak digambarkan seperti sosok monster mitologi dalam buku-buku dongeng yang saya kenal. Nolan tampaknya tidak terlalu mengandalkan tampilan monster fantastis untuk menghidupkan petualangan Odysseus.

 

Bahkan yang membekas di ingatan saya, cyclop pada film garapan Nolan ini malah membuatku berempati pada Polyphemus sebagai sesosok monster penyendiri di pulaunya, seperti perasaan kita di masa kini bahwa kadang kita perlu ruang sendiri, namun gempuran sosial media ataupun kehadiran manusia luar tidak dapat kita hindari ketika mengetuk ruang Direct Message, WhatsApp dan lainnya.  


Benang merah dari The Odyssey ini bukan cerita petualangan tentang menghadapi monster. Akan tetapi, kata kuncinya adalah pulang dan keteguhan niat. Kisah ini tentang perjalanan seorang manusia untuk kembali kepada rumah, keluarga, identitas, dan kehidupannya setelah perang mengubah dirinya.

 

Setelah pergi selama 20 tahun, Odysseus tentu kembali bukan dalam manusia yang sama saat meninggalkan Ithaca. Tidak hanya fisiknya yang menua, tapi ia juga telah ditempa  pengalaman. Demikian juga kesetiaan Penelope sebetulnya adalah ujian sejauh mana kita percaya akan suatu hal.  

No comments:

Post a Comment