Di bioskop saat ini tengah laris film The Odyssey besutan sutradara Christopher Nolan dengan sederet pemain seperti Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, dan Zendaya. Film ini resmi diputar di bioskop mulai 17 Juli 2026, termasuk di Indonesia.
Setelah
sukses melalui Oppenheimer yang meraih berbagai penghargaan Oscar, Nolan
kini mengangkat salah satu karya sastra klasik paling berpengaruh di dunia,
yaitu The Odyssey. Film tersebut diadaptasi dari epos Yunani karya Homer yang
diperkirakan berasal dari sekitar abad kedelapan sebelum Masehi.
Kisahnya
mengikuti perjalanan pulang Odysseus, Raja Ithaca sekaligus salah satu pahlawan
perang Troya. Setelah berperang selama 10 tahun, Odysseus harus menempuh
perjalanan selama 10 tahun lagi untuk kembali ke kerajaannya serta bertemu
kembali dengan istrinya, Penelope, dan putranya, Telemachus.
Perjalanan
tersebut tidak berlangsung mudah. Odysseus harus menghadapi berbagai rintangan,
mulai dari monster mitologi, kemarahan para dewa, kehilangan para pengikutnya, hingga berbagai
cobaan yang menjauhkannya dari perjalanan pulang.
Epos
The Odyssey karya Homer terdiri atas 24 buku yang mengisahkan perjalanan
Odysseus untuk kembali ke Ithaca setelah Perang Troya. Secara garis besar, kisah dalam 24 buku
tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian naratif.
1.
Telemachus mencari kabar ayahnya
Bagian
awal epos tidak langsung mengikuti perjalanan Odysseus, tetapi berpusat pada
putranya, Telemachus. Ia berusaha mencari kabar mengenai sang ayah yang belum
kembali setelah Perang Troya. Sementara itu, para pelamar Penelope menduduki
istana dan menghabiskan kekayaan keluarga karena menganggap Odysseus telah
meninggal.
Telemachus,
yang kini telah beranjak dewasa—meninggalkan rumah untuk mencari kabar tentang
ayahnya dengan dipandu oleh dewi Athena.
2.
Perjalanan dan petualangan Odysseus
Kisah
kemudian beralih ke sudut pandang Odysseus. Bagian ini menceritakan berbagai
rintangan yang dihadapi Odysseus dan pasukan saat berusaha berlayar kembali ke Ithaca.
Perjalanannya
penuh dengan bencana, terutama karena ia telah membuat murka Poseidon, sang
dewa laut. Selama pelayarannya, Odysseus berhasil selamat dari serangkaian
bahaya legendaris. Di antaranya adalah pertemuan dengan Cyclops Polyphemus,
penyihir Circe, para Siren, monster laut Scylla dan Charybdis, hingga masa
ketika ia tertahan di pulau Calypso.
Menariknya, sebagian besar petualangan tersebut dalam epos aslinya disampaikan sebagai kilas balik yang diceritakan oleh Odysseus. Karena itu, alur epos The Odyssey tidak sepenuhnya berjalan secara kronologis.
Makhluk
atau monster mitologi ini telah menjadi cerita klasik yang muncul dalam
berbagai cerita, yaitu:
- Polyphemus: Cyclop, rakasa bermata satu, yang menjebak Odysseus dan anak buahnya. Odysseus membutakan mata makhluk itu dan berhasil meloloskan diri, namun tanpa sengaja memancing kemarahan Poseidon dalam prosesnya.
- Para Siren: makhluk-makhluk yang nyanyiannya begitu indah dan memikat para pelaut hingga menjerumuskan para pelaut pada kematian. Odysseus mengikat dirinya pada tiang kapal dan memerintahkan anak buahnya untuk menyumbat telinga mereka agar ia dapat mendengarkan nyanyian itu dengan aman.
- Penyihir Circe: Seorang penyihir yang untuk sementara mengubah sebagian awak kapal Odysseus menjadi babi.
- Calypso: Seorang nimfa yang menahan Odysseus di pulaunya selama tujuh tahun, serta menawarkan keabadian jika ia mau tinggal bersamanya. Odysseus menolaknya karena ia hanya ingin kembali kepada keluarganya.
3.
Kepulangan (Nostos) dan perebutan kembali Ithaca
Setelah
Odysseus akhirnya tiba di Ithaca, seluruh awak kapalnya telah tewas, dan ia tidak
langsung memperlihatkan identitasnya. Ia menyamar sebagai pengemis tua untuk
mengetahui keadaan kerajaannya dan menguji siapa saja yang masih setia
kepadanya.
Dengan
bantuan putranya, Telemachus, serta dewi Athena, ia mencari tahu siapa saja di
antara penghuni istananya yang tetap setia. Ia kemudian menyingkap jati dirinya
dan—menggunakan busur panahnya yang legendaris—bertarung serta mengalahkan
gerombolan pelamar untuk merebut kembali takhta yang menjadi haknya.
Catatan
Penulis:
Ternyata
penerimaanku terhadap cerita mitologi Yunani akan berubah seiring pertambahan
usia. Termasuk juga usai menonton The Odyssey (2026) karya Christopher Nolan
ini.
Jika
dahulu saya terpuaskan oleh penggambaran monster mitologi seperti dalam The
Clash of the Titans (1981, 2010), atau Wrath of the Titans (2012), maka
di film The Odyssey garapan Nolan tidak terlalu memanjakan penonton
dengan kemegahan monster dan CGI.
Adegan
para Siren tetap dimunculkan, tetapi tidak digambarkan seperti sosok monster
mitologi dalam buku-buku dongeng yang saya kenal. Nolan tampaknya tidak terlalu
mengandalkan tampilan monster fantastis untuk menghidupkan petualangan Odysseus.
Bahkan
yang membekas di ingatan saya, cyclop pada film garapan Nolan ini malah
membuatku berempati pada Polyphemus sebagai sesosok monster penyendiri di
pulaunya, seperti perasaan kita di masa kini bahwa kadang kita perlu ruang
sendiri, namun gempuran sosial media ataupun kehadiran manusia luar tidak dapat
kita hindari ketika mengetuk ruang Direct Message, WhatsApp dan lainnya.
Benang
merah dari The Odyssey ini bukan cerita petualangan tentang menghadapi
monster. Akan tetapi, kata kuncinya adalah pulang dan keteguhan niat. Kisah ini
tentang perjalanan seorang manusia untuk kembali kepada rumah, keluarga,
identitas, dan kehidupannya setelah perang mengubah dirinya.
Setelah
pergi selama 20 tahun, Odysseus tentu kembali bukan dalam manusia yang sama
saat meninggalkan Ithaca. Tidak hanya fisiknya yang menua, tapi ia juga telah
ditempa pengalaman. Demikian juga
kesetiaan Penelope sebetulnya adalah ujian sejauh mana kita percaya akan suatu
hal.

No comments:
Post a Comment