Tuesday, October 31, 2023

The Psychology of Money

  • Edisi: Bahasa Indonesia 


  • Penulis: Morgan Housel 

  • Halaman: xxi + 240 halaman

  • Sampul: soft cover 

  • ISBN: 978-602-6486-57-8


“Nilai intrinsik terbesar uang -dan ini sangat jelas- adalah kemampuannya memberi Anda kendali atas waktu Anda. Untuk mendapatkan kemerdekaan dan otonomi sedikit demi sedikit dari aset yang tak dihabiskan sehingga memberi Anda kendali lebih besar atas apa yang Anda bisa lakukan dan kapan Anda bisa melakukannya,”  

(The Psychology of Money, Morgan Housel, halaman 75) 



Buku yang Saya beli dan baca adalah edisi bahasa Indonesia cetakan ke-75 yang terbit pada Agustus 2023. Tertarik baca buku ini, karena buku ini digadang-gadang oleh sejumlah influencer investasi Indonesia di Youtube untuk dibaca agar membuka cakrawala kita berpikir tentang keuangan. 

dok: Gramedia.com


Selain itu, buku cetakan pertama terbit di 2021 berada di momen yang pas, ketika kesadaran masyarakat merebak tentang pentingnya pengaturan keuangan dan memiliki dana darurat sejak pandemi Covid-19 melanda. 


Di dalam salah satu paragraf buku ini, Housel menyebutkan, “Titik kegagalan paling besar dalam hal uang adalah hanya mengandalkan satu gaji untuk mendanai belanja jangka pendek, tanpa tabungan untuk bantalan antara belanja masa kini dan belanja masa depan.”


Sangat relate, bukan?! Saat ini kita tiba-tiba sering keterpa bahwa sekarang ini tidak hanya mengandalkan gaji, tapi harus punya side income. Seperti halnya di Bab 10 disebutkan bahwa kita tidak perlu alasan khusus untuk menabung. Dalam arti, boleh saja menabung untuk alasan membeli mobil, DP rumah dan sebagainya, namun Housel menekankan pentingnya menabung untuk hal yang tidak dapat diprediksi.  


Buku ini memuat 19 cerita yang mengeksplorasi cara berpikir orang-orang tentang keuangan.Buku ini mengajak pembaca untuk bijak dalam mengambil keputusan seputar keuangan. Terutama tentang keuangan pribadi, investasi dan keuangan bisnis. Ada banyak kutipan menarik yang tercantum di dalam buku tersebut. 


Beberapa saran singkat yang diberikan dalam buku Housel ini tentang membuat keputusan terbaik dengan uang Anda, sebagai berikut: 


  • Usahakan bersikap rendah hati ketika keadaan baik dan memaafkan/welas asih ketika keadaan buruk. 

  • Kurangi ego, tambah kekayaan. 

  • Kelola uang Anda dalam cara yang membuat Anda bisa tidur pada malam hari. 

  • Jika Anda ingin mendapat hasil lebih baik sebagai investor, hal yang paling dashyat yang bisa dilakukan adalah memperpanjang cakrawala waktu. 

  • Santai saja dengan banyak kesalahan. Anda bisa keliru dalam setengah dari semua kesempatan dan tetap untung. 

  • Gunakan uang untuk mendapat kendali atas waktu Anda. 

  • Jadilah lebih baik hati, jangan pamer.  

  • Menabung. Menabung saja. Tak perlu alasan khusus untuk menabung. 

  • Temukan biaya keberhasilan dan bersiaplah membayarnya. 

  • Junjung tinggi ruang untuk kesalahan. 

  • Sebaiknya Anda suka risiko karena seiring waktu, ada imbalannya. 

  • Ketahui permainan yang Anda lakukan dan pastikan tindakan Anda tidak dipengaruhi orang yang permainannya beda

  • Hormati ketidakrapian. Tak ada satu jawaban yang benar, karena setiap orang punya tujuan dan keinginan yang berbeda-beda. 


Kesimpulan akhir dari membaca buku ini, kita perlu menentukan tujuan utama dalam mencari uang dan berinvestasi. Misalkan saja, target utama kamu adalah kemandirian di masa tua, atau bisa terbang liburan ke luar negeri paling tidak satu tahun sekali. Lalu, capai target itu dengan hidup nyaman di bawah kemampuan. 


Cek buku asli dan original di Shopee, Gramedia.com atau yang seken di 2nds_Option.


(*)


Saturday, September 9, 2023

The Cat Who Saved Books (Kucing Penyelamat Buku)

by: Sosuke Natsukawa 


Bahasa Indonesia

Halaman: 200 hlm; 20 cm

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2023  

Sampul: soft cover

ISBN: 978-602-06-7165-9


Mari berpetualang bersama Rintaro Natsuki dan kucing belang tiga Tiger menyelamatkan buku. 


Jujur, saya belum terlalu akrab dengan karya penulis Jepang. Hanya beberapa buku sudah kubaca seperti Kafka on the Shore karya Haruki Murakami, The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo) dari Shimada Soji, dan “Kucing Penyelamat Buku” dari Sosuke Natsukawa ini merupakan karya ketiga dari penulis Negeri Matahari Terbit yang sudah kubaca. 


Saya bisa mengatakan ketiga penulis menawarkan alur cerita yang absurd, fantasi tapi akhirnya ketika mengakhiri bacaan, saya membatin, “Kok bisa berimajinasi seliar itu?”. 


Rintaro Natsuki hendak menutup toko buku bekas yang diwarisi dari almarhum kakeknya. Tapi kemudian muncul seekor kucing entah dari mana, Kucing bernama Tiger ini mengajaknya untuk menyelamatkan buku-buku yang kesepian dan tidak dicintai. Buku-buku ini perlu dibebaskan dari para pemiliknya yang tak peduli. 


Maka dimulailah petualangan Rintaro dan Tiger ke dalam labirin-labirin aneh untuk membebaskan buku-buku. Mereka berjumpa bermacam-macam orang dalam perjalanan itu: pada petualangan pertama, mereka bertemu dengan pria yang membiarkan buku-bukunya mati di rak; kemudian pada petualangan kedua bertemu dengan penyiksa buku yang memotong halaman-halaman buku supaya orang bisa membaca cepat; sementara pada petualangan ketiga sebagai yang terakhir, mereka bertemu penerbit yang hanya mau menerbitkan buku-buku laris. 


Semua petualangan berhasil dilalui Rintaro dan Tiger. Di dunia labirin, Rintaro yang mengakui diri sebagai hikikomori, malah menemukan jati diri atau kepercayaan diri bahwa dirinya memiliki keistimewaan.

Namun tiba-tiba muncul tantangan yang paling berat, hanya orang-orang yang paling berani sanggup masuk ke dalam dunia di dalam labirin terakhir. 


Book Lover Bercermin Diri 

Sosuke Natsukawa melalui tokoh yang ditemui Rintaro di labirin, menurutku, merupakan cara cerdas dan tersirat untuk mengkritisi pecinta buku secara cerdas. Misalkan saja di tokoh pertama, adalah tokoh terkenal di layar TV, yang dengan mudah membeli buku yang dia mau. 


Namun, tokoh pria di petualangan pertama ini memanfaatkan buku untuk gengsi. Sebagai seorang yang banyak merilis makalah dan artikel, menargetkan diri membaca buku sebanyak 100 buku per bulan. Lalu, buku-buku miliknya menjadi koleksi indah di rak. Tergembok rapat. 


Jika kita biasa mendengar kalimat bahwa “Buku adalah jendela dunia”, maka kita bakal makjleb membaca paragraf ini (halaman 45): “Tidak benar bahwa semakin banyak kau membaca, semakin banyak kau melihat dunia. Seberapa banyak pun pengetahuan yang kau jejalkan ke dalam kepalamu, kalau kau tidak menggunakan otakmu sendiri untuk berpikir, berjalan dengan kakimu sendiri, pengetahuan yang kauperoleh akan selalu hampa dan sekadar pinjaman.”


Source: Trnava University

Jika kurang makjleb, mari lanjut ke kutipan berikutnya: 

“Buku tidak bisa menggantikanmu menjalankan hidupmu. Pembaca yang lupa berjalan dengan kakinya sendiri bisa diibaratkan sebuah ensiklopedia, kepalanya penuh dengan informasi yang sudah ketinggalan zaman. Kalau tidak ada orang lain yang membukanya, maka dia hanyalah barang antik tak berguna.”


Lalu pada petualangan kedua, jadi ingat bahwa kita sering mendengar teknik membaca cepat? atau kita kadang ketimbang mencari bukunya di perpustakaan atau toko buku bekas, lebih baik membuka peramban dan menggunakan judul buku sebagai kata kunci, untuk segera menemukan sinopsis dan informasi singkat seputar buku. Voila! dan kita pun sudah merasa paham atas isi buku tersebut. 


Padahal, menurut Rintaro berdasarkan diskusi dengan kakeknya, membaca buku seperti mendaki gunung. Pada perjalanan mencapai puncak, kita perlu menikmati setiap langkah, ini artinya juga memperoleh dan memahami makna yang tertuang dalam buku. 


Setiap petualangan mengasah Rintaro menjadi pribadi yang lebih menonjol. Di dalam buku ini juga menyelipkan kisah cinta remaja SMA. 


Hanya butuh 2 hari untuk menamatkan buku setebal 200 halaman ini. Bacaan ringan untuk diselipkan pula di tas, baca di ruang tunggu dokter, terjemahan bahasa Indonesia pun enak dibaca, dan ide cerita out of the box yang ditawarkan penulis Jepang kembali menyihir saya. Nah, teman blogger, ada yang bisa kasih rekomendasi buku penulis Jepang buat bacaan #Enskibook berikutnya? 


(*)


Saturday, September 2, 2023

Ketika Wanita Berbisnis - Rumah Tangga Berkah, Omzet Berlimpah

Penulis: Husnah Yusuf

Jumlah halaman: xviii + 203 halaman 

Format: soft cover 


Penerbit: PT Elex Media Komputindo


ISBN: 9786230046476


Banyak wanita yang mengeluh uang kurang, bingung tentang masa depan. Banyak wanita yang bingung kerja di luar sana tapi hati dan pikiran ada di rumah karena meninggalkan si buah hati. 


Banyak pula wanita yang ingin bantu suami, tapi bingung caranya bagaimana. Banyak wanita yang bangun bisnis karena ingin lebih fleksibel bersama keluarga, tapi malah kesibukannya semakin menggila. Banyak wanita yang mengeluh, ingin ibadah, tapi uang bahkan untuk dapur saja masih terengah-engah.  


Premis ini sering menghinggapi perempuan pekerja kantor yang juga menjadi ibu rumah tangga. Husnah Yusuf, sang penulis, mengajak pembaca menjadi karyawan untuk diri sendiri. Menurutnya karena lebih mudah mengaplikasikan ide yang ada di kepala, waktu kerja yang fleksibel, membuka lapangan kerja, dan belajar menjadi seorang pemimpin. 


Buku ini menawarkan sudut pandang seorang perempuan yang memilih membuka usaha, ketimbang jadi seorang pekerja kantoran. Husna bisa bercerita dari sudut pandang mantan pekerja kantoran. 


Tulisan muslimah, sehingga mengutip referensi berbasis agama Islam. Sebagai contoh Husnah mencontohkan perempuan yang mandiri dalam mencari uang seperti Bunda Khadijah yang ketika beliau menikah dengan Rasulullah saw., beliau mandiri secara ekonomi. Bisnisnya besar, perdagangannya ekspor sampai ke berbagai negara. 


Menurutnya wanita berbisnis adalah home-based atau bisa dikendalikan dari rumah, sehingga keluarga juga tetap bisa diurus. Saran produk women-based produk yang dibutuhkan oleh wanita, bukan lawan jenis, misalkan skin care, mainan anak, peralatan dapur, minimarket, laundry dan masih banyak lainnya. 


**


Kenapa saya tertarik dengan buku ini? Sebagai perempuan tak dipungkiri, diri ini terpesona dengan judul bukunya. Di benak ini langsung muncul ekspektasi di dalam buku ada panduan atau semacam tips dan trik tetap menghasilkan uang sendiri apabila saya memutuskan resign dari kantor untuk menjadi full-time Nyonya (hehe, Nyonya dulu ya, baru kemudian mamanya anak-anak). 


Namun dari total 6 Chapter (Bab) yang ada di buku ini, saya seperti membaca isi pikiran penulis yang scattered , kurang sistematis, dan ketika menutup satu bab, otak pun berujar, “Jadi, sebetulnya poin utamanya apa?”


Baru ketika memasuki Chapter 3, saya mulai terhanyut menyimak isi buku. Pada akhirnya, saya menilai buku ini menjadi pemantik atau pembuka wawasan seorang perempuan alasan lebih baik menjadi women mom entrepreneur. Buku tentang menjadi seorang wirausaha (entrepreneur) banyak! Tapi buku “Ketika Wanita Berbisnis - Rumah Tangga Berkah Omzet Berlimpah” ini mengisi celah tema yang niche alias spesifik, yaitu tentang wanita wirausaha. 


Jika tertarik untuk mencari inspirasi bisnis bagi seorang perempuan, maka tentu perlu mencari referensi buku lain. 


Adapun isi Chapter (Bab) buku “Ketika Wanita Berbisnis - Rumah Tangga Berkah Omzet Berlimpah” terdiri dari: 


Chapter 1: Bunda Tempatmu di Rumah

Chapter 2: Rumus Alhamdulillah Bismillah 

Chapter 3: Ketika Wanita Berbisnis 

Chapter 4: Mindset Kekayaan 

Chapter 5: Dasteran Miliaran 

Chapter 6: Berjalanlah Perlahan 


(*)


Thursday, February 9, 2023

Buku untuk Belajar Hidup Minimalis (3)

Tak harus belajar dari pakar kerapian untuk membereskan decluttering di rumah, tempat kerja atau kehidupan kita. Seperti Fumio Sasaki dan Muhajjah Saratini adalah para penulis buku yang menginspirasi semangat kita untuk mulai merapikan rumah dan menjadi minimalis, berdasarkan pengalaman mereka.


GOODBYE, THINGS: HIDUP MINIMALIS ALA ORANG JEPANG

·       


Penulis: Fumio Sasaki 

·        Jumlah halaman: 284 halaman 

·        Format: Soft cover

·        Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

·        ISBN: 9786020398402

Fumio Sasaki berubah hidupnya sejak menganut gaya hidup minimalis. Fumio Sasaki menjelaskan bahwa minimalisme adalah gaya hidup yang berarti seseorang mengurangi jumlah barang yang dimilikinya sampai kepada tingkat paling minimum.

 

Contoh tindakan ekstrim Fumio adalah membuang barang-barang yang sudah dimiliki selama bertahun-tahun.

 

Fumio  akhirnya menyadari bahwa dirinya mengumpulkan barang dan tak mampu membuang apapun, demi membeli kebahagiaan. Fumio menyadari bahwa dirinya sering merasa ‘tidak ada apa-apanya’ dibandingkan orang lain, dan membeli barang demi tampak keren dan bahagia.

 

Ohya, bagaimana kalau masih ada perasaan sayang terhadap suatu barang? Fumio memotret barang, sebelum membuangnya. 


Yuk baca “Goodbye, Things: Hidup Minimalis AlaOrang Jepang” yang bisa dibeli di Gramedia dan toko buku lainnya.

 

**

 BAHAGIA MAKSIMAL DENGAN HIDUP MINIMAL


·        Penulis: Muhajjah Saratini 

·        Jumlah halaman: 184 halaman 

·        Dimensi buku: 14 x 20 cm

·        Format: Soft cover

·        Penerbit: Laksana

·        ISBN: 9786024077167

Ini merupakan buku bacaan pertama saya tentang minimalis dari penulis Indonesia. Muhajjah Saratini mengutip beberapa pembelajaran bebenah dari Marie Kondo dan Fumio Sasaki.

 

Sisi menarik dari buku ini adalah bab Asal Mula Tumpukan Barang dan Belajar Melepaskan.

 

Nasehat baik dari Muhajjah Saratini yang layak kita camkan untuk tidak gampang membeli barang adalah, “Mulailah berpikir bahwa uang yang kamu hasilkan sama dengan waktu yang kamu habiskan untuk mendapatkannya. Waktu merupakan hal yang dimiliki manusia dengan batas tertentu.”

 

Hal ini mengaitkan tentang kemampuan menggunakan waktu dengan baik, sehingga bisa menghasilkan barang-barang – yang sebenarnya tidak benar-benar kamu butuhkan. Perhatikan bahwa uang sama dengan waktu. Setiap uang yang kamu habiskan sama dengan waktu yang kamu keluarkan untuk mendapatkannya. Oleh karena itu, uang itu sama berharganya dengan waktu dalam hidupmu. Hal ini semestinya membuatmu lebih waspada ketika hendak menghabiskan uang.


Tertarik? bisa membeli buku dengan klik ini atau cek di toko buku terdekat. 

 

**



Nah, bagaimana?

Setelah membaca rekomendasi buku untuk menjadi minimalis ini, dapat menginspirasi Anda untuk meminimalisir masalah “what a mess” dalam barang hingga kehidupan. 


Simak juga: 

Buku untuk Belajar Hidup Minimalis (2) 

Buku untuk Belajar Hidup Minimalis (1)

 

(*)

Saturday, January 28, 2023

Buku untuk Belajar Hidup Minimalis (2)

Metode Konmari dari Marie Kondo memberikan gambaran tentang pentingnya bebenah, agar barang yang ada di rumah tidak berantakan. Marie Kondo menyarankan agar membuang benda tidak dipakai dan hanya menyimpan benda yang sparkling joy (membawa kebahagiaan).

Namun, jauh sebelum kita mengenal Marie Kondo, ternyata seni beberes Ala Jepang memiliki sejarah panjang. Seni beberes Ala Jepang telah ada lebih dari seribu tahun lalu. Pada tahun 927 M, buku Engishiki, semacam buku panduan pemerintah mencatat tidak hanya undang-undang atau tugas birokrasi, namun juga instruksi pembersihan tahunan Istana Kekaisaran Kyoto.

 

Pembersihan besar-besaran (deep cleaning) dipandang lebih dari sekadar merapikan lingkungan. Bersih-bersih adalah ritual yang menghindari diri dari nasib buruk dan roh jahat selama setahun untuk mengantisipasi awal yang baru.

 

Di sesi tulisan ini rekomendasi buku untuk beberes dan inspirasi hidup minimalis adalah Danshari dan The Life-Changing Manga of Tidying Up: A Magical Story.  

 

 


DANSHARI

·        Penulis: Hideko Yamashita 

·        Jumlah halaman: 296 halaman 

·        Format: Soft cover

·        Penerbit: Noura Books

·       ISBN: 9786232423473

 

Buku Danshari menginspirasi bahwa beres-beres akan membuat kita bersyukur atas semua yang kita miliki. Merelakan sesuatu adalah bentuk bahwa kita sudah mendapatkan apa yang memang kita butuhkan, dan bukan yang kita inginkan.

 

Di dalam Danshari ada tiga tahapan dalam beberes.  

 

Tahap pertama adalah “Dan” (artinya menolak) maksudnya menjauhkan diri dari mengambil hal-hal yang tidak kita perlukan. Seperti prinsip zero waste dengan cara meminimalkan daftar belanja, mencari alternatif untuk hadiah, menghilangkan sampah (trash) pada email, menolak pemberian gratis, dan menolak tawaran sampah plastik.

 

Selanjutnya tahap kedua adalah “Sha” (artinya membuang) cara yang perlu dilakukan adalah membuang setidaknya satu item setiap hari, melepaskan benda-benda sentimental, mengurangi isi pakaian, dan mendonasikan barang yang dibuang untuk amal.

 

Dan tahap ketiga atau terakhir adalah “Ri” (artinya – berlepas diri) memisahkan diri dari afeksi (kasih sayang. Dalam istilah psikologi semacam status kejiwaan yang disebabkan oleh pengaruh eksternal). Caranya dengan menyadari bahwa semua harta bukan milik kita abadi, merasa hidup ini selalu cukup, dan cukup hidup dengan barang yang sedikit.

 

 **

 




THE LIFE-CHANGING MANGA OF TIDYING UP: A MAGICAL STORY

Penulis: Marie Kondo

Versi: e-book

 

Dalam buku di The Life-Changing Manga of Tidying Up: A Magical Story membahas Metode Konmari dalam bentuk komik (manga). Di dalam buku ini Marie Kondo menghadirkan karakter fiksi Chiaki, perempuan muda yang tinggal di Tokyo dan struggling menghadapi ruangan apartemen yang berantakan penuh barang, messy love life dan tanpa tujuan.

 

Hingga suatu titik, Chiaki memanggil Marie Kondo sebagai konsultan beres-beres. Semula Chiaki mengira metode beres-beres yang diterapkan Marie adalah bantu merapikan rumah secara fisik. Namun, ternyata Marie hanya memberikan arahan.

 

Menurut Marie, kesuksesan bebenah 90% dipengaruhi oleh pikiran (mindset). Sehingga langkah pertama yang harus dilakukan saat memutuskan beres-beres, maka kita perlu terlebih dulu menvisualisasikan kehidupan ideal yang ingin dijalani.Kemudian buang benda-benda tak dipakai. Namun, jangan terobsesi pada benda apa yang dibuang, melainkan fokus pada benda yang ingin disimpan. Benda yang disimpan adalah membawa kebahagiaan alias spark joy.


Namun semua langkah ini harus kita kerjakan sendiri. Ada emosi yang terekam saat kita memegang dan memilah barang. 

 

Marie memiliki teknik melipat pakaian yang efisien. Nah, versi manga membuat kita dapat mempelajari cara melipat pakaian dalam bentuk visual untuk setiap tahap.


Selain itu, versi manga ini membuat penyampaian materi terasa ringan untuk dicerna atau dibaca berulang kali.  (*)