Saturday, January 28, 2023

Buku untuk Belajar Hidup Minimalis (2)

Metode Konmari dari Marie Kondo memberikan gambaran tentang pentingnya bebenah, agar barang yang ada di rumah tidak berantakan. Marie Kondo menyarankan agar membuang benda tidak dipakai dan hanya menyimpan benda yang sparkling joy (membawa kebahagiaan).

Namun, jauh sebelum kita mengenal Marie Kondo, ternyata seni beberes Ala Jepang memiliki sejarah panjang. Seni beberes Ala Jepang telah ada lebih dari seribu tahun lalu. Pada tahun 927 M, buku Engishiki, semacam buku panduan pemerintah mencatat tidak hanya undang-undang atau tugas birokrasi, namun juga instruksi pembersihan tahunan Istana Kekaisaran Kyoto.

 

Pembersihan besar-besaran (deep cleaning) dipandang lebih dari sekadar merapikan lingkungan. Bersih-bersih adalah ritual yang menghindari diri dari nasib buruk dan roh jahat selama setahun untuk mengantisipasi awal yang baru.

 

Di sesi tulisan ini rekomendasi buku untuk beberes dan inspirasi hidup minimalis adalah Danshari dan The Life-Changing Manga of Tidying Up: A Magical Story.  

 

 


DANSHARI

·        Penulis: Hideko Yamashita 

·        Jumlah halaman: 296 halaman 

·        Format: Soft cover

·        Penerbit: Noura Books

·       ISBN: 9786232423473

 

Buku Danshari menginspirasi bahwa beres-beres akan membuat kita bersyukur atas semua yang kita miliki. Merelakan sesuatu adalah bentuk bahwa kita sudah mendapatkan apa yang memang kita butuhkan, dan bukan yang kita inginkan.

 

Di dalam Danshari ada tiga tahapan dalam beberes.  

 

Tahap pertama adalah “Dan” (artinya menolak) maksudnya menjauhkan diri dari mengambil hal-hal yang tidak kita perlukan. Seperti prinsip zero waste dengan cara meminimalkan daftar belanja, mencari alternatif untuk hadiah, menghilangkan sampah (trash) pada email, menolak pemberian gratis, dan menolak tawaran sampah plastik.

 

Selanjutnya tahap kedua adalah “Sha” (artinya membuang) cara yang perlu dilakukan adalah membuang setidaknya satu item setiap hari, melepaskan benda-benda sentimental, mengurangi isi pakaian, dan mendonasikan barang yang dibuang untuk amal.

 

Dan tahap ketiga atau terakhir adalah “Ri” (artinya – berlepas diri) memisahkan diri dari afeksi (kasih sayang. Dalam istilah psikologi semacam status kejiwaan yang disebabkan oleh pengaruh eksternal). Caranya dengan menyadari bahwa semua harta bukan milik kita abadi, merasa hidup ini selalu cukup, dan cukup hidup dengan barang yang sedikit.

 

 **

 




THE LIFE-CHANGING MANGA OF TIDYING UP: A MAGICAL STORY

Penulis: Marie Kondo

Versi: e-book

 

Dalam buku di The Life-Changing Manga of Tidying Up: A Magical Story membahas Metode Konmari dalam bentuk komik (manga). Di dalam buku ini Marie Kondo menghadirkan karakter fiksi Chiaki, perempuan muda yang tinggal di Tokyo dan struggling menghadapi ruangan apartemen yang berantakan penuh barang, messy love life dan tanpa tujuan.

 

Hingga suatu titik, Chiaki memanggil Marie Kondo sebagai konsultan beres-beres. Semula Chiaki mengira metode beres-beres yang diterapkan Marie adalah bantu merapikan rumah secara fisik. Namun, ternyata Marie hanya memberikan arahan.

 

Menurut Marie, kesuksesan bebenah 90% dipengaruhi oleh pikiran (mindset). Sehingga langkah pertama yang harus dilakukan saat memutuskan beres-beres, maka kita perlu terlebih dulu menvisualisasikan kehidupan ideal yang ingin dijalani.Kemudian buang benda-benda tak dipakai. Namun, jangan terobsesi pada benda apa yang dibuang, melainkan fokus pada benda yang ingin disimpan. Benda yang disimpan adalah membawa kebahagiaan alias spark joy.


Namun semua langkah ini harus kita kerjakan sendiri. Ada emosi yang terekam saat kita memegang dan memilah barang. 

 

Marie memiliki teknik melipat pakaian yang efisien. Nah, versi manga membuat kita dapat mempelajari cara melipat pakaian dalam bentuk visual untuk setiap tahap.


Selain itu, versi manga ini membuat penyampaian materi terasa ringan untuk dicerna atau dibaca berulang kali.  (*)




 

Friday, January 20, 2023

Buku untuk Belajar Hidup Minimalis (1)

Belakangan ini sering mendengar gaya hidup minimalis? Gaya hidup minimalis adalah hidup yang berfokus untuk meminimalkan gangguan yang bisa menghalangi kamu melakukan hal-hal yang sebenarnya penting.  Gaya hidup minimalis menerapkan konsep less is more atau kesederhanaan dengan cara mengurangi sejumlah hal berlebihan di dalam hidup kita, agar kita lebih fokus pada yang penting bagi diri kita.

Saat ini, saya dalam perjalanan menjadi seorang minimalis. Untuk menerapkan gaya hidup minimalis dengan baik, saya menemukan beberapa rekomendasi buku untuk belajar hidup minimalis.    


1. The Life-Changing Magic of Tidying Up


  • ·       Penulis: Marie Kondo 
  • ·        Dimensi: 13 x 20.5 cm
  • ·        Jumlah halaman: 224 halaman 
  • ·        Format: Soft cover
  • ·        Penerbit: Bentang Pustaka
  • ·        ISBN: 9786022912446

Saat pertama kali membaca The Life-Changing Magic of Tidying Up dalam versi Bahasa Indonesia, saya langsung tertarik untuk mencoba konsep ini. Secara kebetulan, saat itu saya mengalami masalah terlalu banyak clutter (kekacauan) di rumah yang saya tempati.

Di dalam buku yang ditulis oleh pakar kerapian Marie Kondo, dia memperkenalkan KonMari Methods (Metode Konmari) yang mengorganisir barang berdasarkan kategori yang dirapikan secara berurutan. Mulai dari:

  1. Pakaian
  2. Buku
  3. Kertas
  4.  komono (dapur, kamar mandi, dan garasi, serta semua yang serba-serbi), dan yang terakhir adalah
  5. sentimental items (benda sentimental)

Membaca buku ini memperkenalkan saya dengan istilah seni merapikan atau de-cluttering. “Proses merapikan memberikan peluang unik untuk memahami apa yang terpenting dalam hidup seseorang,” demikian ucap Marie Kondo.

Sehingga Marie Kondo memberikan nasehat agar kita meluangkan waktu untuk merapikan dan memilah barang berdasarkan sesuatu yang membawa kebahagiaan atau spark joy saat kita pegang barang tersebut. 

Dalam proses mempraktekkan Metode Konmari, menurut pengalamanku, bakal ada satu atau lebih dari satu kategori yang membuat kita stuck alias paling susah membuang. Sehingga saya senang membaca ulang buku ini yang kusematkan sebagai “kompas seni berbenah”.

Beberapa point noted dari Marie Kondo adalah tentang membangkitkan kegembiraan dari memilah pakaian serta melipat pakaian agar efisien di dalam lemari, buku-buku yang perlu diketuk dan dibangunkan, hingga merapikan Dokumen yang dipilah menjadi:

  1. Tertunda: seperti surat dan tagihan
  2. Dokumen penting: kontrak dan form asuransi
  3.  Lainnya: bahan seminar, potongan majalah dll.

Seni merapikan dari Marie Kondo juga bisa disimak di Netflix, masing-masing seri Tidying Up with Marie Kondo dan Sparkling Joy with Marie Kondo, membuat kita dapat pemahaman baik dari sisi buku bacaan dan inspirasi bebenah secara visual tontonan.  

(*)

Sunday, January 15, 2023

Nak, Belajarlah Soal Uang


Penulis: Jeong Seon Yong (Jeong Story)

Buku Financial - Edisi Bahasa Indonesia

Jumlah halaman: xv + 286 halaman

Format: Soft cover

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-06-6214-5

 

Deskripsi:

Bagi Penggemar buku finansial tentu sudah akrab dengan Rich Dad Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki, yang cukup memberi inspirasi kita untuk melek finansial sejak dini dan mengajarkan kita apa yang harus kita lakukan ataupun mengajarkan anak kita tentang uang agar mereka memiliki masa depan keuangan yang sukses.

 

Sehingga ketika diriku memegang buku Nak, Belajarlah Soal Uang Pelajaran tentang Uang dari seorang ayah kaya Korea, saya tentu penasaran nasihat finansial versi Appa (sebutan “Ayah” dalam bahasa Korea) dari negeri Ginseng.

 

Jeong Seon Yong meyakini bahwa tanah dan properti merupakan aset yang kuat untuk menjadi portofolio investasi. Aset yang memiliki batang yang kuat dan tahan goncangan, demikian kata Appa Seon Yong tentang properti.

 

Hal ini tidak lepas dari data bahwa Korea Selatan memiliki tingkat kepadatan penduduk nomor satu di dunia, dengan tingkat urbanisasi sebesar 82%, kepadatan penduduk nomor satu terpusat di kota metropolitan. Ditambah lagi tingkat persebaran rumah tangga yang pesat.

 

Nasehat keuangan yang kedua dari appa Seon Yong adalah menjadi pemilik usaha sendiri karena ini berarti memiliki pekerjaan yang aman dan tidak perlu khawatir dipecat. Ada sebuah petuah indah tentang menjalankan bisnis, yaitu “Sesuatu yang luar biasa terdapat pada roti yang dibasahi air mata dan sampanye yang dipenuhi air mata.” Singkatnya bahwa untuk sukses dalam bisnis maka bisnis pertama harus dilakukan secara mandiri dari tingkat dasar.

 

Namun appa Seon Yong mengaitkan membangun bisnis dengan empat fase usia pemahaman tentang uang.

 

Fase pertama, menurutnya, masa kanak-kanak adalah masa pemahaman penggunaan uang. Tahap ini terjadi sebelum seseorang memasuki kehidupan sosial. Dari lahir hingga pertengahan umur dua puluhan tahun. Periode tersebut waktu untuk belajar tentang pemakaian uang.

 

Fase kedua, masa muda adalah waktunya berfokus mencari uang dengan pekerjaan.


Sedangkan fase ketiga, masa dewasa adalah waktunya berfokus mencari pendapatan dari bisnis. Jika sekarang ini marak pendapat motivasi bahwa memulai bisnis di usia muda, katakanlah sejak lulus sarjana sekitar 22 tahun keatas, sehingga rentang usia yang kita miliki cukup panjang jika terjadi jatuh bangun dalam proses merintis usaha.

 

Seon Yong di dalam buku ini menempatkan masa dewasa seseorang dalam rentang usia empat puluh tahun hingga enam puluh tahun. Karena di periode ini kita mulai melangkahkan kaki untuk pertama kali ke dunia bisnis dengan menggunakan prinsip dasar yang didapatkan ketika bekerja. Pada tahapan ini kita sudah menguasai pembelajaran kita tentang penggunaan uang dan pendapatan dari bekerja.  

 

Barulah pada fase keempat, masa tua adalah waktunya untuk fokus kepada pendapatan dari modal. Masa ini dimulai dari akhir umur enam puluh tahun sampai ajal datang menanti.

 

Selain itu, appa Seon Yong juga menyebutkan bahwa keberhasilan pencapaian finansial mereka tidak lepas dari peran istrinya alias Ibu. Bahkan dia mengakui, Ibu memiliki pengetahuan ekonomi yang lebih baik sejak usia muda, ketimbang dirinya.

 

Sosok ibu digambarkan sebagai wanita muda yang telah memahami nilai uang sejak muda. Misalkan lebih memilih emas untuk mahar pernikahan, dimana emas tersebut menjadi salah satu pilihan investasi, dan  mengatur keuangan rumah tangga secara hemat.

 

Buku setebal lebih dari 280 halaman ini menurutku memberi ‘warna berbeda’ untuk literasi finansial. Yaitu, gaya tulisan naratif bak membaca surat dari Ayah tentang nasehat tentang pengetahuan ekonomi.


 

Sedikit bocoran Daftar Isi buku Nak, Belajarlah Soal Uang terdiri dari 5 bab:

 

Pendahuluan: Mengapa Kita Harus Belajar Soal Uang

1.      Tingkatkan Kekayaan: Ketahui Rasa Uang untuk Meraih Kekayaan

2.      Strategi: Uang Terkumpul, Uang Terpakai, Uang Disimpan

3.      Investasi: Teknik Mengumpulkan dan Menggulungnya

4.      Kehidupan: Kekayaan Ada Pada Pikiran

5.      Pelajaran Tentang Uang: Empat Cara Memiliki Mata yang Bisa Melihat Uang

Penutup: Kemiskinan Itu Memalukan

Surat Dari Anak: Kulihat Dunia dengan Pelita Ayahku

 

(*)

 


 

Rich Dad Poor Dad

Penulis: Robert T. Kiyosaki

Buku Business/Management - Edisi Bahasa Indonesia

Dimensi: 15 x 23  cm

Berat: 0,270 gram

Tebal: 244 halaman

Format: Soft cover

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-3317-5

 

Deskripsi:

 

“Alasan utama orang mengalami kesulitan keuangan adalah mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah tapi tidak belajar apa-apa tentang uang. Akibatnya, orang belajar untuk bekerja demi uang tapi tidak pernah belajar membuat uang bekerja bagi mereka.”

—Robert Kiyosaki

 


Rich Dad Poor Dad
(Ayah Kaya Ayah Miskin) adalah buku yang dirilis pertama kali pada 1997 karya Robert T. Kiyosaki dan Sharon Lechter membahas masalah finansial yang dihadapi banyak orang dikarenakan ajaran keliru orang tua mereka mengenai keuangan, yang juga dialaminya semasa kecil dan remaja.

 

Poor Dad (Ayah Miskin) adalah ayah kandung Robert sendiri yang seorang guru berpendidikan tinggi yang selalu menekankan anak-anaknya untuk giat bersekolah supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus di sekolah dan pekerjaan yang terjamin di masa mendatang. Ayah Miskin mengajarkan kepada anaknya menjadi pegawai yang berpenghasilan tinggi, tetapi pada kenyataan tetap bergantung kepada gaji sepanjang hidupnya.

 

Berbeda halnya dengan Rich Dad (Ayah Kaya) yang tidak berpendidikan tinggi tapi mengajarkan anak-anaknya untuk mengambil risiko membangun usaha dan menjadi investor setelah mereka lulus sekolah.

 

Kedua ayah ini disebutkan telah memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupannya yang sekarang, karena dengan ajaran Ayah Kaya, ia bisa berhasil dalam bidang finansial, dan dengan pengaruh ayah kandungnya, Robert bisa menjadi pengajar mengenai pendidikan ekonomi yang dia ciptakan. 


Saya pertama kali membaca buku ini karena dipinjamkan teman. Saat itu, seingatku, saya mungkin baru di tahun awal terjun ke dunia kerja, sedang menikmati penghasilan bulanan untuk membeli apa yang diinginkan (dengan catatan: ingin tapi sesuai kemampuan, lho). Setelah membaca buku itu, cukup mengubah pandanganku tentang penghasilan serta sebagaimana nasehat Ayah Kaya untuk mendefinisikasn asset dan liabilitas secara jelas.

 

Dalam buku ini, Robert Kiyosaki mencoba mengajarkan para pembaca untuk mulai saat ini melatih anak dan cucunya kelak, bahkan untuk dirinya sendiri agar cerdas dalam mengelola persoalan finansial. Selain itu, Robert juga menggarisbawahi bahwa orang kaya tidak bekerja hanya untuk uang, melainkan uang yang akan bekerja untuknya.

 

Saya kembali membaca buku Rich Dad Poor Dad versi Bahasa Indonesia yang mencapai cetakan ke-58 (Februari 2021) di masa pandemi COVID-19. Baca buku menjadi salah satu kegiatan saat di rumah saja apalagi karena beli buku juga bisa secara online misalkan di situs e-commerce seperti Shopee, Blibli, Periplus atau Gramedia.com.

 

Buku Rich Dad Poor Dad telah diterbitkan pertama kali pada 24 tahun lalu. Tapi ide yang ditawarkan semakin benar, dimana setiap orang paham tentang pentingnya melek finansial dan pentingnya pendidikan keuangan  sejak masih anak-anak.

 

Buku Rich DadPoor Dad direkomendasikan sebagai salah satu buku rekomendasi sebagai titik awal bagi siapa pun yang ingin belajar tentang investasi dan pengelolaan keuangan.  


Ini bocoran Daftar Isi buku Rich Dad Poor Dad:

·        Pendahuluan: Ayah Kaya, Ayah Miskin

·        Bab Satu: Pelajaran Satu: Orang Kaya Tidak Bekerja untuk Uang

·        Bab Dua: Pelajaran Dua: Mengapa Mengajarkan Melek Keuangan?

·        Bab Tiga: Pelajaran Tiga: Uruslah Bisnis Anda Sendiri

·        Bab Empat: Pelajaran Empat: Sejarah Pajak dan Kekuatan Korporasi

·        Bab Lima: Pelajaran Lima: Orang Kaya Menciptakan Uang

·        Bab Enam: Pelajaran Enam: Bekerja untuk Belajar—Jangan Bekerja untuk Uang

·        Bab Tujuh: Mengatasi Berbagai Hambatan

·        Bab Delapan: Memulai

·        Bab Sembilan: Masih Ingin Lagi? Berikut Beberapa Hal yang Perlu Dilakukan

·        Pemikiran Akhir

(*)



Monday, January 2, 2023

Pengalaman Perdana Tukar Poin MyValue buat Beli Buku di Gramedia

 


Setiap belanja di Gramedia, baik di toko buku Gramedia dan Gramedia.com, akan mendapat poin Value ID MyValue. Tidak terasa sampai bernilai lebih 150 ribu poin yang bakal hangus pada 1 Januari 2023.

Akhirnya pada Sabtu (31/12) saya ke Gramedia Matraman. Pertama,  saya mendatangi Customer Service dan menjelaskan tujuan saya mau belanja buku memanfaatkan redeem poin Value ID.  Saya lalu dipandu oleh seorang wanita di bagian Customer Service untuk membuka aplikasi MyValue di smartphone, lalu buka bagian redeem di aplikasi hingga menukarkan sejumlah poin menjadi kode e-voucher. 

Berdasarkan poin Value ID, maka ada dua pilihan e-voucher belanja di Gramedia, yaitu Rp50.000 atau Rp100.000. 

Kalau voucher belanja Gramedia senilai Rp50.000 (lima puluh ribu rupiah) yang hanya dipakai untuk memotong belanja buku, sementara voucher Rp100.000 (seratus ribu rupiah) bisa untuk semua produk di Gramedia seperti buku, alat tulis, printer dan lainnya.

Saya menukar senilai Rp100 ribu, karena memang daripada hangus. Dan senang sekali ketika saya melakukan ‘penghematan’ pembelian tiga buah buku senilai total Rp268 ribu, akhirnya hanya perlu membayar senilai Rp168 ribu saja.

Ohya  saya sekadar berbagi cerita ini buat jadi informasi kepada para bookmania terutama yang masih senang beli dan baca buku secara fisik, agar jangan lewatkan kumpulkan poin transaksi belanja di toko buku Gramedia dan Gramedia Online untuk nantinya ditukar e-voucher Gramedia.

Cara kumpulkan poin juga tidak hanya beli buku, tapi berbagai produk di Gramedia dan kelompok KPG. Salah satunya, saya juga pernah mendapatkan tambahan poin Value ID MyValue dari Hotel Santika.

Tapi wajib diingat, hingga saat saya menuliskan blog ini, e-voucher hanya dapat dipakai bertransaksi di offline store Gramedia, dan tidak bisa digunakan memotong belanja di Gramedia Online. (*)